Bagaimana Cara Mengatur Range Skor Peringkat SPME Jika Panduan Perolehan Akreditasi Tidak Berupa Angka?

7 min. bacapembaruan terakhir: 08.26.2026

Untuk melakukan Simulasi Akreditasi pada Modul SPMI, Anda perlu mengatur Peringkat SPME pada Instrumen Penilaian yang akan digunakan. Namun, tidak semua panduan dari Lembaga Akreditasi menggunakan range skor berupa angka pasti untuk menentukan peringkat akreditasi kampus. Beberapa instrumen menggunakan format persentase (misal: harus memenuhi 80% dari total skor) atau berupa penjabaran naratif bersyarat (misal: indikator Kriteria A wajib terpenuhi untuk mendapat peringkat Unggul). Ketentuan detail mengenai hal ini dapat dilihat pada Buku Panduan Penilaian dari masing-masing lembaga.

Agar syarat-syarat non-numerik tersebut tetap bisa dimasukkan dan diproses oleh sistem yang menggunakan pengaturan range skor, kita perlu melakukan penyesuaian (special treatment). Berikut adalah beberapa contoh variasi aturan dari lembaga akreditasi yang tidak eksplisit menggunakan range skor:

Menjelaskan dengan bentuk Persentase (Contohnya IAPS 5.1 dan LAMEMBA):

  1. IAPS 5.1
  2. LAMEMBA

Penjelasan dengan bentuk penjabaran naratif (Contohnya LAMEMBA Unggul):

  1. LAMEMBA Unggul

 

 

Prinsip Dasar Pengaturan Range Skor pada Peringkat SPME

Referensi > Referensi Audit Mutu Internal > Instrumen Penilaian > Peringkat SPME

Sebelum melakukan pengaturan, perhatikan beberapa prinsip dasar terkait bagaimana sistem memproses Peringkat SPME:

  • Sebagai Penampung Hasil Akhir: Peringkat SPME berfungsi sebagai wadah untuk mengategorikan Skor Akhir SPME (Eksternal) yang diperoleh setelah proses Audit Mutu Internal (AMI) selesai dilakukan.

  • Wajib Berupa Range Angka: Sistem tidak dapat membaca angka tunggal atau teks. Input skor harus berupa angka (mendukung bilangan desimal) dan wajib dimasukkan dalam bentuk rentang nilai (range), yaitu memiliki Batas Bawah (minimum) dan Batas Atas (maksimum).

  • Penentuan Peringkat Otomatis: Setelah proses AMI selesai, sistem akan secara otomatis mencocokkan Skor Akhir yang didapat dengan range yang telah dikonfigurasi, lalu menampilkan peringkat yang sesuai.

Berdasarkan prinsip di atas, maka kunci utama dari seluruh proses penyesuaian (special treatment) lembaga akreditasi ini hanya satu: Menentukan angka mutlak untuk Batas Bawah (Skor Minimal) dan Batas Atas (Skor Maksimal) dari masing-masing peringkat. Apapun bentuk aturan dari panduannya, baik berupa persentase maupun narasi, tujuan akhir kita adalah mengonversinya menjadi dua angka batas skor tersebut.

 

 

Cara Mengonversi Aturan Akreditasi Menjadi Batas Skor

Karena panduan instrumen akreditasi sangat bervariasi, sistem dirancang fleksibel untuk mengakomodasi berbagai jenis penilaian tersebut. Untuk mulai menerjemahkan aturan lembaga akreditasi Anda menjadi format range skor (Batas Bawah dan Batas Atas) di dalam sistem, silakan pilih skenario di bawah ini yang paling sesuai dengan karakteristik instrumen yang sedang Anda gunakan:

1. Cara Menentukan Peringkat/Status berdasarkan Persentase

Apabila instrumen Lembaga Akreditasi menggunakan persentase sebagai syarat perolehan peringkat/status (seperti contohnya pada instrumen IAPS 5.1), berikut adalah cara mengonversinya ke dalam sistem:

Mencari Skor Maksimal dan Menentukan Skor Tersebut dalam Bentuk Range

Untuk mengetahui total skor maksimal dari keseluruhan indikator anda perlu memahami rumus berikut:

Total Nilai Skor = Total Bobot Indikator x Skor Tertinggi

  • Jika bobot per butir bernilai 1 (seperti LAMEMBA): Total Bobot = Jumlah Butirnya langsung (misal 58 butir = 58 bobot).

  • Jika bobot tiap butir berbeda-beda: Total Bobot = Jumlahkan angka bobot dari butir-butir terkait.

Selanjutnya, Anda dapat mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Cari Dokumen Panduan Matriks Penilaian untuk Lembaga yang akan digunakan simulasi akreditasi pada Modul SPMI.
  2. Hitung seluruh indikator yang ada pada Panduan Penilaian tersebut.

Catatan Penting:

Pada beberapa panduan, indikator penilaian mungkin tidak disajikan dalam bentuk tabel matriks, melainkan dalam bentuk penjabaran naratif. Untuk mengenali mana kalimat yang bertindak sebagai sebuah indikator, Anda bisa memperhatikan ciri-ciri berikut:

  • Biasanya tersusun dalam format poin-poin (berupa bullet atau angka).

  • Isi kalimatnya berupa instruksi atau pertanyaan evaluasi yang mensyaratkan pemenuhan tertentu oleh kampus.

Perhitungan jumlah indikator tidak hanya didasarkan pada nomor butir utama, tetapi juga mencakup indikator yang memiliki turunan (sub-indikator). Sebagai contoh, apabila Indikator 8 memiliki turunan A, B, dan C, maka secara total dihitung sebagai 3 indikator.

  1. Jumlahkan seluruh bobot pada setiap indikator yang tersedia pada panduan.

Catatan Pembagian Bobot: Pada beberapa panduan Lembaga Akreditasi, bobot sering kali hanya dicantumkan pada level indikator utama. Apabila indikator utama tersebut memiliki cabang atau turunan (sub-indikator), maka total bobot tersebut harus dibagi rata sesuai dengan jumlah turunannya saat diinput ke dalam sistem.

Contoh: Indikator 8 memiliki bobot sebesar 6. Namun, Indikator 8 tersebut memiliki 3 turunan (yaitu poin 8.A, 8.B, dan 8.C). Maka, perhitungan bobot untuk masing-masing turunan adalah: 6 dibagi 3 = 2. Sehingga, bobot yang berlaku untuk indikator 8.A adalah 2, 8.B adalah 2, dan 8.C adalah 2.

  1. Selanjutnya, untuk mendapatkan Total Skor Keseluruhan, hasil penjumlahan bobot tadi tinggal dikalikan dengan maksimal range skor yang ada pada panduan

Catatan:

  • Jika pada panduan hanya terdapat kriteria "Memenuhi", maka maksimal range skor pada sistem dikonversi menjadi 1.

  • Jika pada panduan terdapat tingkatan kriteria (contohnya terdapat "Memenuhi Sebagian"), maka skor tertingginya disesuaikan. Contoh: Untuk kriteria "Memenuhi" ditetapkan dengan skor maksimal 2, sedangkan kriteria "Memenuhi Sebagian" ditetapkan dengan skor 1.

  1. Langkah berikutnya, silakan tentukan batas range skor untuk masing-masing status/peringkat yang tertera pada panduan (mulai dari status Tidak Terakreditasi, Terakreditasi, Terakreditasi 3 Tahun, dan sebagainya)

Contoh untuk menentukan Tidak terakreditasi dan Terakreditasi pada panduan IAPS 5.1, dikarenakan pada panduan tersebut penilaiannya menggunakan metode kualitatif (Memenuhi dan Tidak Memenuhi) dan tidak terdapat bobot, maka cukup menghitung total indikator. Karena pada panduan, untuk mendapatkan Terakreditasi harus memenuhi 80% indikator

Maka, tinggal mencari hasil dari 80% total indikator (63 Indikator) yaitu 49.6 dibulatkan menjadi 50, sehingga untuk menentukannya range skornya:

  • Tidak Terakreditasi : 0 - 50
  • Terarkeditasi : 51 - 63

Berikut adalah contoh tampilan pengisian range skor pada sistem sesuai dengan simulasi hitungan di atas:

 

2. Cara Menentukan Peringkat/Status Berdasarkan Syarat Naratif

Apabila instrumen Lembaga Akreditasi menggunakan penjabaran naratif sebagai penentu perolehan peringkat/status (seperti contohnya pada instrumen LAMEMBA Unggul), secara keseluruhan tahapan untuk menentukan skor maksimalnya sama dengan metode persentase sebelumnya.

Hal utama yang membedakan hanyalah pada cara menentukan batas range skor untuk masing-masing peringkatnya. Pada format naratif ini, panduan biasanya sudah mencantumkan angka ambang minimal indikator, contohnya: 'Minimal 40 indikator melampaui SN Dikti untuk Terakreditasi Unggul 2 Tahun'.

Menentukan Batas Range Skor Berdasarkan Ambang Minimal Indikator

Bapak/Ibu tidak perlu khawatir, cara menghitungnya sama persis seperti saat menghitung nilai persentase sebelumnya. Bedanya, di sini buku panduan sudah menyebutkan langsung target minimalnya (misalnya: "Wajib memenuhi minimal 42 indikator").

Sebelum masuk ke langkah-langkah menentukan range, Anda wajib mengetahui total skor maksimal dari keseluruhan indikator dengan memahami rumus berikut:

Total Nilai Skor = Total Bobot Indikator x Skor Tertinggi

  • Jika bobot per butir bernilai 1 (seperti LAMEMBA): Total Bobot = Jumlah Butirnya langsung (misal 58 butir = 58 bobot).

  • Jika bobot tiap butir berbeda-beda: Total Bobot = Jumlahkan angka bobot dari butir-butir terkait.

Berikut 4 langkah mudah untuk menentukan range skornya (menggunakan contoh kasus IAU LAMEMBA dengan total 58 indikator dan skor tertinggi 1):

  1. Hitung Nilai Maksimal Seluruh Instrumen

    Kalikan total bobot dari seluruh indikator dengan skor tertingginya.

    (Total seluruh bobot adalah 58, skor tertinggi per butir adalah 1. Maka total nilai maksimal = 58 x 1 = 58).

     

  2. Hitung Nilai Minimal yang Disyaratkan Panduan

    Buka buku panduan, lihat berapa target minimal indikator yang diminta untuk status tersebut.

    (Misal: Syarat Unggul 2 Tahun minimal 40 indikator. Total bobotnya adalah 40. Maka nilai minimal kelulusan = 40 x 1 = 40).

     

  3. Masukkan Sebagai Batas Range Status Tersebut

    Angka hasil hitungan di Langkah 2 (40) langsung dimasukkan sebagai Batas Bawah, dan nilai maksimal (58) sebagai Batas Atas.

    • Range Terarekditasi Unggul (2 Tahun): 40 – 58

     

  4. Tentukan Batas untuk Peringkat di Bawahnya

    Untuk status di bawahnya (misal: Tidak Terakreditasi), tentukan batas atasnya dengan angka tepat 1 nilai sebelum batas minimal tadi (yaitu 39).

    • Range Tidak Terakreditasi: 0 – 39

Berikut adalah contoh tampilan pengisian range skor pada sistem sesuai dengan simulasi hitungan di atas:

 

Setelah berhasil mengatur Range Skor, Anda dapat melanjutkan konfigurasi kriteria khusus dan butir wajib pada menu Syarat Perlu agar hasil simulasi akreditasi instrumen menjadi lebih lengkap dan akurat.

Apakah artikel ini membantu?