Penggunaan Unsur Nilai Lebih dari Satu Kali dalam Komponen Evaluasi
Deskripsi Fitur
Perguruan tinggi memiliki kebutuhan untuk memakai unsur nilai yang sama misalnya UTS, UAS, ETS, Tugas, atau Praktikum di lebih dari satu tempat dalam struktur penilaian, seperti nilai ETS yang dipakai untuk mengukur capaian di CPMK 1 sekaligus di CPMK 2, atau nilai UAS yang dipakai di beberapa metode evaluasi yang berbeda.
Di SIM Akademik saat ini sudah mengakomodasi kebutuhan tersebut, di mana satu unsur nilai dapat dipakai berulang di beberapa induk (parent) yang berbeda selama tidak melanggar aturan dasar yang dijelaskan di bawah, dan perubahan ini berlaku di seluruh tahapan penilaian yang saling terhubung, yaitu:
1. Template Evaluasi (per kurikulum & program studi)
2. Rencana Evaluasi (per mata kuliah)
3. Komposisi Nilai (per kelas perkuliahan)
4. Input Nilai Perkuliahan (hasil akhir yang dilihat dosen dan mahasiswa)
Karena keempat halaman ini saling terhubung, aturan yang berlaku di Template Evaluasi dapat diteruskan ke Rencana Evaluasi, ke Komposisi Nilai kelas, hingga ke tampilan penilaian kelas.
Aturan Dasar
Supaya lebih mudah diingat, aturannya bisa diringkas dalam satu kalimat:
Unsur nilai yang sama boleh dipakai berulang, asalkan tidak berada di tingkat (level) yang sama di bawah induk yang sama.
Berikut rincian aturannya.
Diperbolehkan (sistem berhasil menyimpan)
|
Situasi |
Contoh |
|---|---|
|
Unsur nilai sama, tapi berada di bawah induk yang berbeda |
UTS dipakai sebagai sub-unsur di Metode Evaluasi 1, dan UTS juga dipakai sebagai sub-unsur di Metode Evaluasi 2 |
|
Unsur nilai sama, satu berdiri sendiri (tanpa induk) dan satu lagi menjadi sub-unsur dari induk lain |
UTS berdiri sendiri sebagai satu metode evaluasi, sementara UTS lain menjadi sub-unsur dari Metode Evaluasi Praktikum |
|
Menyalin (copy) template atau rencana evaluasi yang mengandung unsur berulang, selama polanya masih mengikuti dua aturan di atas |
Menyalin Template Evaluasi dari jenis mata kuliah Praktikum ke Blok |
Contoh unsur nilai sama yang berada di bawah induk yang berbeda (dengan syarat metode evaluasi memiliki lebih dari 1 sub metode evaluasi)
Unsur nilai UTS sudah bisa dipetakan lebih dari satu asal berbeda induk
Contoh unsur nilai sama yaitu UTS yang menjadi metode evaluasi dan sub metode evaluasi

Tidak diperbolehkan (sistem menolak dan menampilkan notifikasi data sudah ada)
|
Situasi |
Contoh |
|---|---|
|
Unsur nilai sama dipakai dua kali di bawah induk yang sama |
Metode Evaluasi 1 memiliki dua sub-unsur yang sama-sama bernama UTS |
|
Unsur nilai sama dipakai dua kali tanpa induk sama sekali |
Ada dua metode evaluasi berdiri sendiri yang sama-sama bernama UTS |
|
Unsur nilai dipakai sebagai induk sekaligus sebagai sub-unsur di bawah induk itu sendiri |
Metode Evaluasi bernama UTS memiliki sub-unsur yang juga bernama UTS |
Ketiga situasi di atas berlaku sama baik saat menambah data baru, mengedit data, maupun menyalin (copy) data.
Contoh kasus unsur nilai sama dipakai dua kali di bawah induk yang sama
Terdapat dua unsur nilai UTS yang berada di bawah CPMK 2

Contoh unsur nilai sama dipakai dua kali tanpa induk sama sekali (menjadi induk atau tidak memiliki sub-metode evaluasi),
seperti metode evaluasi CPMK1 pertama tidak memiliki sub-metode evaluasi dan metode evaluasi CPMK1 kedua memiliki sub-metode evaluasi tetap terdeteksi duplikat karena terdapat di metode evaluasi / menjadi induk.

Contoh unsur nilai dipakai sebagai induk sekaligus sebagai sub-unsur di bawah induk itu sendiri. Seperti induk UTS memiliki sub-metode evaluasi yang sama yaitu UTS

Studi Kasus: Laporan Nilai Mata Kuliah Farmakologi
Contoh berikut memperlihatkan bagaimana aturan di atas berjalan pada laporan nilai perkuliahan yang sudah jadi.
Pada mata kuliah Farmakologi, struktur penilaiannya dibagi berdasarkan CPMK (Capaian Pembelajaran Mata Kuliah), di mana setiap CPMK berperan sebagai Metode Evaluasi (induk), dan setiap unsur di dalamnya berperan sebagai Sub Metode Evaluasi (anak). Sesuai aturan yang berlaku, bobot Sub Metode Evaluasi dalam satu CPMK harus berakumulasi 100%, dan bobot seluruh CPMK sebagai Metode Evaluasi juga harus berakumulasi 100%.
|
CPMK 1 |
CPMK 2 |
CPMK 3 |
CPMK 4 |
CPMK 5 |
CPMK 6 |
|
|
Bobot Metode Evaluasi |
15% |
20% |
15% |
20% |
15% |
15% |
|
Sub Metode Evaluasi 1 |
Kuis (40%) |
Sikap (30%) |
Praktikum (40%) |
Tugas (30%) |
EAS (100%) |
Kuis (40%) |
|
Sub Metode Evaluasi 2 |
Tugas (30%) |
Presentasi (30%) |
EAS (60%) |
EAS (70%) |
— |
EAS (60%) |
|
Sub Metode Evaluasi 3 |
ETS (30%) |
ETS (40%) |
— |
— |
— |
— |
|
Total Sub Metode Evaluasi |
100% |
100% |
100% |
100% |
100% |
100% |
Baris "Bobot Metode Evaluasi" menunjukkan porsi setiap CPMK terhadap nilai akhir mata kuliah, dan jika dijumlahkan (15% + 20% + 15% + 20% + 15% + 15%) hasilnya tepat 100%. Sementara itu, baris "Total Sub Metode Evaluasi" memastikan bahwa unsur-unsur di dalam setiap CPMK juga selalu berakumulasi 100%, berapa pun jumlah sub-unsur di dalamnya.
Dari tabel ini juga terlihat beberapa unsur nilai dipakai berulang di CPMK yang berbeda-beda, ETS muncul di CPMK 1 dan CPMK 2, EAS muncul di CPMK 3, 4, 5, dan 6, Tugas muncul di CPMK 1 dan CPMK 4, serta Kuis muncul di CPMK 1 dan CPMK 6. Semua ini adalah contoh nyata dari kondisi "diperbolehkan" karena setiap kemunculan unsur yang sama berada di bawah induk (CPMK) yang berbeda-beda, bukan diulang di dalam CPMK yang sama.
Sebagai perbandingan, kondisi yang akan ditolak sistem adalah jika, misalnya, CPMK 1 memiliki dua sub-unsur yang sama-sama bernama ETS. Skenario seperti itu tidak akan bisa disimpan, baik di Template Evaluasi, Rencana Evaluasi, maupun Komposisi Nilai kelas, sehingga tidak akan pernah sampai muncul di laporan nilai.
Karena data yang tersimpan di Template Evaluasi dan Rencana Evaluasi sudah mengikuti aturan ini sejak awal, saat kelas dibuat dan nilai diinput, sistem otomatis menghitung total nilai per CPMK dengan benar meskipun ada unsur nilai yang sama namanya di beberapa CPMK, karena secara data unsur-unsur tersebut tetap dianggap sebagai komponen yang berbeda.
Manfaat bagi Admin dan Dosen
-
Struktur penilaian bisa disusun mengikuti kebutuhan kurikulum yang sebenarnya (misalnya model CPMK/OBE), tanpa harus membuat nama unsur nilai yang berbeda-beda hanya karena dipakai berulang.
-
Perubahan struktur di Template Evaluasi maupun Rencana Evaluasi akan konsisten terbawa sampai ke Komposisi Nilai kelas dan tampilan nilai akhir mahasiswa.
-
Sistem otomatis mencegah kesalahan input berupa duplikasi unsur nilai di level yang sama, lengkap dengan notifikasi yang menjelaskan bahwa data sudah ada.
Manfaat bagi Admin dan Dosen
-
Struktur penilaian bisa disusun mengikuti kebutuhan kurikulum yang sebenarnya (misalnya model CPMK/OBE), tanpa harus membuat nama unsur nilai yang berbeda-beda hanya karena dipakai berulang.
-
Perubahan struktur di Template Evaluasi maupun Rencana Evaluasi akan konsisten terbawa sampai ke Komposisi Nilai kelas dan tampilan nilai akhir mahasiswa.
-
Sistem otomatis mencegah kesalahan input berupa duplikasi unsur nilai di level yang sama, lengkap dengan notifikasi yang menjelaskan bahwa data sudah ada.
Ringkasan
|
Level |
Berlaku aturan sama? |
Dampak jika unsur nilai diulang sesuai aturan |
|---|---|---|
|
Template Evaluasi |
Ya |
Menjadi acuan struktur untuk Rencana Evaluasi Mata Kuliah |
|
Rencana Evaluasi (Mata Kuliah) |
Ya |
Menjadi acuan struktur untuk Komposisi Nilai kelas |
|
Komposisi Nilai (Kelas) |
Ya |
Menentukan struktur input nilai per kelas |
|
Input Nilai Perkuliahan |
Mengikuti struktur di atas |
Total dan nilai akhir dihitung otomatis sesuai struktur, termasuk saat ada unsur nilai yang sama di beberapa induk |
Demikian panduan Penggunaan Unsur Nilai Lebih dari Satu Kali dalam Komponen Evaluasi semoga dapat memudahkan admin akademik dalam memetakan komponen evaluasi hingga sub komponen evaluasi yang lebih fleksibel.
Pusat Bantuan